Makalah Islam Sebagai Produk Budaya
Disusun untuk memenuhi tugas Metodologi Studi Islam
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Saat ini apresiasi umat islam secara umum terdapat budaya islam sangat minimum atau bahkan hampir tidak ada. Seiring dengan perkembangan zaman dan derasnya arus globalisasi menyebabkan banyaknya budaya-budaya luar yang masuk dan mempengaruhi.
Budaya baratlah yang merajalela di era globalisasi ini. Meskipun Indonesia terletak di Asia Tenggara agaknya kini lebih akrab dengan dunia Barat ketimbang dengan sesama Muslim Asia Tenggara. Kita melihat ada kecenderungan kultural, ekonomi, politik, dan pendidikan yang mengarah pada ketergantungan dan pengkiblatan diri pada dunia Barat, khususnya Amerika. Ka’bah tetap menjadi kiblat Muslimin sedunia, tapi budaya seremonial dan simbolisme dunia Islam yang telah lama berkembang, kini mampu mereduksi substansi keberagaman hingga menjadikan Amerika sebagai kiblat lain yang menjanjikan
Ketergantungan global dunia ketiga dewasa adalah satu kenyataan
yang merisaukan. Arus informasi global yang ada ternyata tidak seimbang dengan
dominasi informasi dari budaya Barat. Keadaan ini menimbulkan dominasi kultural
atau imperalisme budaya.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian budaya?
2.
Bagaimana Islam sebagai budaya?
3.
Bagaimana pendekata studi budaya?
Tujuan
1.
Megetahui apa pengertian budaya.
2.
Memahami bagaimana Islam
sebagai budaya.
3.
Memahami bagaimana pendekatan studi budaya.
BAB II
PEMBAHASAN
II.1 PENGERTIAN BUDAYA
Ada tiga istilah yang semakna dengan kebudayaan, yaitu culture,
civilization, dan kebudayaan. Term kultur berasal dari bahasa Latin,
yaitu dari kata cultura. Arti kultur adalah memelihara, mengerjakan
atau mengolah (S. Takdir Alisyahbana, 1986: 205). Soerjono Soekanto (1993: 188)
mengungkapkan hal yang sama. Namun ia menjelaskan lebih jauh bahwa yang
dimaksud dengan mengolah atau mengerjakan sebagai arti kultur adalah mengolah
tanah atau bertani. Atas dasar arti yang dikandungnya, kebudayaan kemudian
dimaknai sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah
alam.[1]
Kebudayaan pada umumnya sering
diartikan secara sederhana sebagai hasil budaya manusia, hasil cipta, rasa dan
karsa dengan menggunakan simbol-simbol serta artifak. Sejalan dengan pengertian
ini, kebudayaan meliputi cara hidup seluruh masyarakat yang mencangkup cara
bersikap, menggunakan pakaian, bertutur bahasa, ibadah, norma-norma tingkah
laku, serta sistem kepercayaan.[2]
Pengertian kebudayaan seperti itu
hampir mirip dengan definisi peradaban atau civilization yakni
masyarakat yang teramat mapan dan kompleks yang mencangkup segi-segi kehidupan
politik, agama, hukum, dan sebagainya.
II.2 ISLAM SEBAGAI BUDAYA
Islam yang dihubungkan dengan
kebudayaan berarti cara hidup atau way of life yang juga sangat luas
cakupannya. Tentu disini Islam juga dilihat sebagai realitas sosial. Yakni
Islam yang telah menyejarah meruang dan mewaktu, Islam yang dipandang sebagai
fenomena sosial:bisa dilihat dan dicermati. Dengan demikian yang dimaksudkan
kebudayaan Islam adalah cara pandang komunitas Muslim yang telah berjalan,
terlembaga dan tersosialisasi dari kurun waktu ke waktu, satu generasi ke
generasi yang lain dalam berbagai aspek kehidupan yang cukup luas tapi tetap
menampilkan satu bentuk budaya, tradisi, seni, yang khas Islam. Biasanya ruang
lingkup studi budaya tidak bisa lepas dari beberapa faktor yang mencangkup
manusia, pengaruh lingkungan, perkembangan masyarakat, serta lintas budaya atau
cross-culture.
Keunikan budaya dan peradapan Islam
terletak pada kokohnya landasan budaya dan peradapan ini berdiri dan bersandar.
Paling tidak ada lima poin utama yang membedakan budaya islam dengan budaya
lain. Pertama adalah konsep tauhid atau oneness of god. Di mana
saja kapan saja Islam selalu menampilkan ajakan satu Tuhan. Semua yang ada di
atas bumi tunduk pada hanya satu Tuhan. Dengan unity of god atau tauhid,
posisi individu dan kelompoknya terangkat dan tidak bisa diganggu gugat oleh
siapapun. Kemerdekaan, kebebasan yang tauhidi adalah citra budaya masyarakat
ini. Penjajahan, imperialisme, penindasan, atau kewenang-wenangan.penguasa atas
penderitaan rakyat tidak ada tempat.
Kedua adalah universalitas pesan dan
misi peradaban ini. Qur’an menekankan persaudaraan manusia dengan tetap memberi
ruang pada perbedaan ras, keluarga, negara, dan sebagainya. Al-Qur’an memberi
ajaran yang jelas bahwa persatuan umat manusia adalah satu keharusan dengan
tetap bersandar pada kebenaran, kebaikan, serta taqwa pada Allah.
Ketiga adalah prinsiap moral yang
selalu ditegakkan dalam budaya ini. Selain ajaran Al-Qur’an, sunnah yang penuh
dengan nuansa-nuansa moral, peradaban dan kebudayaan Islam juga tidak pernah
sepi dari ajaran ini. Ajaran moral wali songo misalnya nama bisa dibaca dalam
buku the Admonition of She Bari, atau pesan-pesan seh Bari yang oleh
para sejarawan diduga ditulis oleh sunan bonang. Ajaran moral walisongo juga
disajikan melalui media wayang yang
memasyarakat dijawa.
Keempat adalah budaya toleransi yang
cukup tinggi. Bisa dikatakan bahwa dimana sebuah negara penduduknya mayoritas
muslim, seperti Madinah zaman Nabi misalnya, pastilah non muslim terjamin hidup
aman, damai, berdampingan bersam-sama. Sementara jika minoritas muslim tinggal
disebuah negara dengan penduduk mayoritas non muslim seperi yang terjadi di
India, agaknya keadaan akan lain.
Kelima adalah prinsip keutamaan
belajar memperoleh ilmu. Budaya ngaji membaca dan mengkaji kandungan Al-Qur’an,
mempelajar hadits adalah budaya Islam yang telah lama eksis sejak kurun pertama
sampai kini. Al-Qur’an dan sunah itu sendiri menekankan mulianya pendidikan dan
pencari ilmu. Budaya baca, iqra’, dengan demikian telah terbukti membawa
peradaban islam pada puncak peradaban dunia dalam waktu yang sangat lama.
Budaya yang mengesankan ini sering disebut sebagai budaya pendidikan seumur
hidup, atau ” life long educatin” yang terukir dalam sejarah sekaligus
dalam sabda Nabi : “ Carilah ilmu dari sejak bayi sampai keliang lahat “.
II.3 PENDEKATAN STUDI BUDAYA
Dakwah Islam ke Indonesia lengkap dengan seni dan
kebudayaannya, maka Islam tidak lepas dari budaya Arab. Permulaan berkembangnya
Islam diIndonesia, dirasakan demikian sulit untuk mengantisipasi adanya
perbedaanantara ajaran Islam dengan kebudayaan Arab. Tumbuh kembangnya
Islam di Indonesia diolah sedemikian rupa oleh para juru dakwah dengan
melalui berbagai macam cara, baik melalui bahasa maupun budaya seperti halnya
dilakukan oleh para wali Allah di Pulau Jawa. Para wali Allah tersebut dengan
segala kehebatannya dapat menerapkan ajaran dengan melalui bahasa dan budaya
daerah setempat, sehingga masyarakat secara tidak sengaja dapat memperoleh
nilai-nilai Islam yang pada akhirnya dapat mengemas dan berubah menjadi adat
istiadat di dalam hidup dan kehidupan sehari-hari dan secara langsung merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan bangsa Indonesia, misalnya:
setiap diadakan upacara-upacara adat banyak menggunakan bahasa Arab
(Al-Qur’an), yang sudah secara langsung masuk ke dalam bahasa daerah dan
Indonesia, hal tersebut tidak disadari bahwa sebenarnya yang dilaksanakan
adalah ajaran-ajaran islam.
Ajaran-ajaran Islam yang bersifat komprehensif dan
menyeluruh juga dapat disaksikan dalam hal melaksanakan hari raya Idul Fitri 1
Syawal yang pada awalnya sebenarnya dirayakan secara bersama dan serentak oleh
seluruh umat Islam dimanapun mereka berada, namun yang kemudian berkembang di
Indonesia bahwa segenap lapisan masyarakat tanpa pandang bulu dengan tidak
memandang agama dan keyakinannya secara bersama-sama mengadakan syawalan (halal
bil halal) selama satu bulan penuh dalam bulan syawal, hal inilah yang pada
hakikatnya berasal dari nilai-nilai ajaran Islam, yaitu mewujudkan ikatan tali
persaudaraan di antara sesama handai tolan dengan cara saling bersilaturahmi
satu sama lain, sehingga dapat terjalin suasana akrab di dalam keluarga.
Berkaitan dengan nilai-nilai Islam dalam kebudayaan
Indonesia yang lain, juga dapat dikemukakan yaitu sesuai dengan perkembangan
zaman terutama ciri dan corak bangunan masjid di Indonesia yang juga mengalami
tumbuh kembang, baik terdiri dari masjid-masjid tua maupun yang baru dibangun,
misal: masjid-masjid yang dibangun oleh Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila,
pada umumnya hampir mirip dengan bentuk joglo yang berseni budaya Jawa.
Perkembangan budaya Islam yang terdapat pada masjid, secara nyata dapat
ditunjukkan yaitu adanya masjid-masjid tua yang kemudian diperbaiki dengan
ditambah konstruksi baru atau mengganti tiang-tiang kayu dengan tiang batu atau
beton, lantai batu dengan ubin dan dinding sekat dengan tembok.[3]
BAB III
PENUTUP
III.1 KESIMPULAN
Kebudayaan diartikan secara
sederhana sebagai hasil budaya manusia, hasil cipta, rasa dan karsa dengan
menggunakan simbol-simbol serta artifak. Sejalan dengan pengertian ini,
kebudayaan meliputi cara hidup seluruh masyarakat yang mencangkup cara
bersikap, menggunakan pakaian, bertutur bahasa, ibadah, norma-norma tingkah
laku, serta sistem kepercayaan.
Islam yang dihubungkan dengan
kebudayaan berarti cara hidup atau way of life yang juga sangat luas
cakupannya. Tentu disini Islam juga dilihat sebagai realitas sosial. Yakni
Islam yang telah menyejarah meruang dan mewaktu, Islam yang dipandang sebagai
fenomena sosial:bisa dilihat dan dicermati.
Para wali Allah tersebut dengan segala kehebatannya
dapat menerapkan ajaran dengan melalui bahasa dan budaya daerah setempat,
sehingga masyarakat secara tidak sengaja dapat memperoleh nilai-nilai Islam
yang pada akhirnya dapat mengemas dan berubah menjadi adat istiadat di dalam
hidup dan kehidupan sehari-hari dan secara langsung merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari kebudayaan bangsa Indonesia, misalnya: setiap diadakan
upacara-upacara adat banyak menggunakan bahasa Arab (Al-Qur’an), yang sudah
secara langsung masuk ke dalam bahasa daerah dan Indonesia, hal tersebut tidak
disadari bahwa sebenarnya yang dilaksanakan adalah ajaran-ajaran islam.
III.2. SARAN
Dengan selesainya penulisan makalah ini, kami berharap semoga bisa
bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya. Penulis menyadari
bahwa masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam makalah ini, untuk itu saran
yang membangun sangat kami harapkan untuk perbaikan dan pengembangan makalah
ini.
DAFTAR PUSTAKA
Atang, Abd. Hakim, Metodologi Studi Islam Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 1999.
Thoha,chabib,dkk,Metodelogi Pengajaran Agama Semarang:Pustaka Belajar,1999.
Hakim, Atang Abd, Drs,
Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 1999, cet 1.
[3] Hakim, Atang Abd, Drs, Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam,
Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1999, hal 43, cet 1.
Kak izin copast beberapa🙏🙏
BalasHapusKak, saya masih bingung tentang makalah.. Boleh minta ajarin gak
BalasHapus