SELAMAT DATANG DI BLOG

Senin, 26 Januari 2015

Makalah Islam sebagai Produk Budaya (MSI)

Makalah Islam Sebagai Produk Budaya

Disusun untuk memenuhi tugas Metodologi Studi Islam

BAB I

PENDAHULUAN



I.1 Latar Belakang


Saat ini apresiasi umat islam secara umum terdapat budaya islam sangat minimum atau bahkan hampir tidak ada. Seiring dengan perkembangan zaman dan derasnya arus globalisasi menyebabkan banyaknya budaya-budaya luar yang masuk dan mempengaruhi.

Budaya baratlah yang merajalela di era globalisasi ini. Meskipun Indonesia terletak di Asia Tenggara agaknya kini lebih akrab dengan dunia Barat ketimbang dengan sesama Muslim Asia Tenggara. Kita melihat ada kecenderungan kultural, ekonomi, politik, dan pendidikan yang mengarah pada ketergantungan dan pengkiblatan diri pada dunia Barat, khususnya Amerika. Ka’bah tetap menjadi kiblat Muslimin sedunia, tapi budaya seremonial dan simbolisme dunia Islam yang telah lama berkembang, kini mampu mereduksi substansi keberagaman hingga menjadikan Amerika sebagai kiblat lain yang menjanjikan
Ketergantungan global dunia ketiga dewasa adalah satu kenyataan yang merisaukan. Arus informasi global yang ada ternyata tidak seimbang dengan dominasi informasi dari budaya Barat. Keadaan ini menimbulkan dominasi kultural atau imperalisme budaya.

Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian budaya?
2.      Bagaimana Islam sebagai budaya?
3.      Bagaimana pendekata studi budaya?

Tujuan

1.      Megetahui apa pengertian budaya.
2.      Memahami  bagaimana Islam sebagai budaya.
3.      Memahami bagaimana pendekatan studi budaya.


BAB II

PEMBAHASAN

II.1 PENGERTIAN BUDAYA

Ada tiga istilah yang semakna dengan kebudayaan, yaitu culture, civilization, dan kebudayaan. Term kultur berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata cultura. Arti kultur adalah memelihara, mengerjakan atau mengolah (S. Takdir Alisyahbana, 1986: 205). Soerjono Soekanto (1993: 188) mengungkapkan hal yang sama. Namun ia menjelaskan lebih jauh bahwa yang dimaksud dengan mengolah atau mengerjakan sebagai arti kultur adalah mengolah tanah atau bertani. Atas dasar arti yang dikandungnya, kebudayaan kemudian dimaknai sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam.[1]
Kebudayaan pada umumnya sering diartikan secara sederhana sebagai hasil budaya manusia, hasil cipta, rasa dan karsa dengan menggunakan simbol-simbol serta artifak. Sejalan dengan pengertian ini, kebudayaan meliputi cara hidup seluruh masyarakat yang mencangkup cara bersikap, menggunakan pakaian, bertutur bahasa, ibadah, norma-norma tingkah laku, serta sistem kepercayaan.[2]
Pengertian kebudayaan seperti itu hampir mirip dengan definisi peradaban atau civilization yakni masyarakat yang teramat mapan dan kompleks yang mencangkup segi-segi kehidupan politik, agama, hukum, dan sebagainya.

II.2 ISLAM SEBAGAI BUDAYA

Islam yang dihubungkan dengan kebudayaan berarti cara hidup atau way of life yang juga sangat luas cakupannya. Tentu disini Islam juga dilihat sebagai realitas sosial. Yakni Islam yang telah menyejarah meruang dan mewaktu, Islam yang dipandang sebagai fenomena sosial:bisa dilihat dan dicermati. Dengan demikian yang dimaksudkan kebudayaan Islam adalah cara pandang komunitas Muslim yang telah berjalan, terlembaga dan tersosialisasi dari kurun waktu ke waktu, satu generasi ke generasi yang lain dalam berbagai aspek kehidupan yang cukup luas tapi tetap menampilkan satu bentuk budaya, tradisi, seni, yang khas Islam. Biasanya ruang lingkup studi budaya tidak bisa lepas dari beberapa faktor yang mencangkup manusia, pengaruh lingkungan, perkembangan masyarakat, serta lintas budaya atau cross-culture.
Keunikan budaya dan peradapan Islam terletak pada kokohnya landasan budaya dan peradapan ini berdiri dan bersandar. Paling tidak ada lima poin utama yang membedakan budaya islam dengan budaya lain. Pertama adalah konsep tauhid atau oneness of god. Di mana saja kapan saja Islam selalu menampilkan ajakan satu Tuhan. Semua yang ada di atas bumi tunduk pada hanya satu Tuhan. Dengan unity of god atau tauhid, posisi individu dan kelompoknya terangkat dan tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Kemerdekaan, kebebasan yang tauhidi adalah citra budaya masyarakat ini. Penjajahan, imperialisme, penindasan, atau kewenang-wenangan.penguasa atas penderitaan rakyat tidak ada tempat.
Kedua adalah universalitas pesan dan misi peradaban ini. Qur’an menekankan persaudaraan manusia dengan tetap memberi ruang pada perbedaan ras, keluarga, negara, dan sebagainya. Al-Qur’an memberi ajaran yang jelas bahwa persatuan umat manusia adalah satu keharusan dengan tetap bersandar pada kebenaran, kebaikan, serta taqwa pada Allah.
Ketiga adalah prinsiap moral yang selalu ditegakkan dalam budaya ini. Selain ajaran Al-Qur’an, sunnah yang penuh dengan nuansa-nuansa moral, peradaban dan kebudayaan Islam juga tidak pernah sepi dari ajaran ini. Ajaran moral wali songo misalnya nama bisa dibaca dalam buku the Admonition of She Bari, atau pesan-pesan seh Bari yang oleh para sejarawan diduga ditulis oleh sunan bonang. Ajaran moral walisongo juga disajikan melalui media wayang yang  memasyarakat dijawa.
Keempat adalah budaya toleransi yang cukup tinggi. Bisa dikatakan bahwa dimana sebuah negara penduduknya mayoritas muslim, seperti Madinah zaman Nabi misalnya, pastilah non muslim terjamin hidup aman, damai, berdampingan bersam-sama. Sementara jika minoritas muslim tinggal disebuah negara dengan penduduk mayoritas non muslim seperi yang terjadi di India, agaknya keadaan akan lain.
Kelima adalah prinsip keutamaan belajar memperoleh ilmu. Budaya ngaji membaca dan mengkaji kandungan Al-Qur’an, mempelajar hadits adalah budaya Islam yang telah lama eksis sejak kurun pertama sampai kini. Al-Qur’an dan sunah itu sendiri menekankan mulianya pendidikan dan pencari ilmu. Budaya baca, iqra’, dengan demikian telah terbukti membawa peradaban islam pada puncak peradaban dunia dalam waktu yang sangat lama. Budaya yang mengesankan ini sering disebut sebagai budaya pendidikan seumur hidup, atau ” life long educatin” yang terukir dalam sejarah sekaligus dalam sabda Nabi : “ Carilah ilmu dari sejak bayi sampai keliang lahat “.

II.3 PENDEKATAN STUDI BUDAYA

Dakwah Islam ke Indonesia lengkap dengan seni dan kebudayaannya, maka Islam tidak lepas dari budaya Arab. Permulaan berkembangnya Islam diIndonesia, dirasakan demikian sulit untuk mengantisipasi adanya perbedaanantara ajaran Islam dengan kebudayaan Arab. Tumbuh kembangnya  Islam di Indonesia diolah sedemikian rupa oleh para juru dakwah dengan melalui berbagai macam cara, baik melalui bahasa maupun budaya seperti halnya dilakukan oleh para wali Allah di Pulau Jawa. Para wali Allah tersebut dengan segala kehebatannya dapat menerapkan ajaran dengan melalui bahasa dan budaya daerah setempat, sehingga masyarakat secara tidak sengaja dapat memperoleh nilai-nilai Islam yang pada akhirnya dapat mengemas dan berubah menjadi adat istiadat di dalam hidup dan kehidupan sehari-hari dan secara langsung merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan bangsa Indonesia, misalnya: setiap diadakan upacara-upacara adat banyak menggunakan bahasa Arab (Al-Qur’an), yang sudah secara langsung masuk ke dalam bahasa daerah dan Indonesia, hal tersebut tidak disadari bahwa sebenarnya yang dilaksanakan adalah ajaran-ajaran islam.
Ajaran-ajaran Islam yang bersifat komprehensif dan menyeluruh juga dapat disaksikan dalam hal melaksanakan hari raya Idul Fitri 1 Syawal yang pada awalnya sebenarnya dirayakan secara bersama dan serentak oleh seluruh umat Islam dimanapun mereka berada, namun yang kemudian berkembang di Indonesia bahwa segenap lapisan masyarakat tanpa pandang bulu dengan tidak memandang agama dan keyakinannya secara bersama-sama mengadakan syawalan (halal bil halal) selama satu bulan penuh dalam bulan syawal, hal inilah yang pada hakikatnya berasal dari nilai-nilai ajaran Islam, yaitu mewujudkan ikatan tali persaudaraan di antara sesama handai tolan dengan cara saling bersilaturahmi satu sama lain, sehingga dapat terjalin suasana akrab di dalam keluarga.
Berkaitan dengan nilai-nilai Islam dalam kebudayaan Indonesia yang lain, juga dapat dikemukakan yaitu sesuai dengan perkembangan zaman terutama ciri dan corak bangunan masjid di Indonesia yang juga mengalami tumbuh kembang, baik terdiri dari masjid-masjid tua maupun yang baru dibangun, misal: masjid-masjid yang dibangun oleh Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila, pada umumnya hampir mirip dengan bentuk joglo yang berseni budaya Jawa. Perkembangan budaya Islam yang terdapat pada masjid, secara nyata dapat  ditunjukkan yaitu adanya masjid-masjid tua yang kemudian diperbaiki dengan ditambah konstruksi baru atau mengganti tiang-tiang kayu dengan tiang batu atau beton, lantai batu dengan ubin dan dinding sekat dengan tembok.[3]

 

BAB III

PENUTUP

III.1 KESIMPULAN

Kebudayaan diartikan secara sederhana sebagai hasil budaya manusia, hasil cipta, rasa dan karsa dengan menggunakan simbol-simbol serta artifak. Sejalan dengan pengertian ini, kebudayaan meliputi cara hidup seluruh masyarakat yang mencangkup cara bersikap, menggunakan pakaian, bertutur bahasa, ibadah, norma-norma tingkah laku, serta sistem kepercayaan.
Islam yang dihubungkan dengan kebudayaan berarti cara hidup atau way of life yang juga sangat luas cakupannya. Tentu disini Islam juga dilihat sebagai realitas sosial. Yakni Islam yang telah menyejarah meruang dan mewaktu, Islam yang dipandang sebagai fenomena sosial:bisa dilihat dan dicermati.
Para wali Allah tersebut dengan segala kehebatannya dapat menerapkan ajaran dengan melalui bahasa dan budaya daerah setempat, sehingga masyarakat secara tidak sengaja dapat memperoleh nilai-nilai Islam yang pada akhirnya dapat mengemas dan berubah menjadi adat istiadat di dalam hidup dan kehidupan sehari-hari dan secara langsung merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan bangsa Indonesia, misalnya: setiap diadakan upacara-upacara adat banyak menggunakan bahasa Arab (Al-Qur’an), yang sudah secara langsung masuk ke dalam bahasa daerah dan Indonesia, hal tersebut tidak disadari bahwa sebenarnya yang dilaksanakan adalah ajaran-ajaran islam.

III.2. SARAN

Dengan selesainya penulisan makalah ini, kami berharap semoga bisa bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam makalah ini, untuk itu saran yang membangun sangat kami harapkan untuk perbaikan dan pengembangan makalah ini.


DAFTAR PUSTAKA


Atang, Abd. Hakim, Metodologi Studi Islam Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1999.
Thoha,chabib,dkk,Metodelogi Pengajaran Agama  Semarang:Pustaka Belajar,1999.
Hakim, Atang Abd, Drs, Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1999, cet 1.



[1]   Atang, Abd. Hakim, Metodologi Studi Islam hal 27-29 Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1999.
[2]  Thoha,chabib,dkk,Metodelogi Pengajaran Agama hal 140-146 Semarang:Pustaka Belajar,1999.
[3] Hakim, Atang Abd, Drs, Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1999, hal 43, cet 1.

2 komentar: